Tag: kebenaran

  • Mesin yang Beroperasi Tanpa Dasar

    Mesin yang Beroperasi Tanpa Dasar

    Ada tipe kebohongan tertentu yang tidak harus benar agar bisa berhasil. Kebohongan ini hanya perlu terus diulang oleh orang yang tepat, dengan suara yang keras, dan menyasar celah yang tepat. Berikan pengulangan yang cukup, maka ia akan berhenti menjadi sekadar klaim dan mulai dianggap sebagai fakta. Bukan karena ada yang membuktikannya, melainkan karena semua orang di sekitar kita terlihat memercayainya. Pada akhirnya, otak kita, yang purba, sosial, dan takut dianggap aneh sendiria, secara diam-diam akan mengubah dirinya sendiri agar sesuai dengan lingkungan sekitar.

    Kita suka mengira kita mempercayai sesuatu karena hal itu benar. Sebenarnya tidak. Kita percaya karena itu milik kita, karena pihak kita mendukungnya, dan karena meragukannya berarti kehilangan orang-orang yang berharga bagi kita. Satu kelemahan dalam sifat manusia ini adalah seluruh kuncinya. Berikan celah itu kepada operator yang ahli, tambahkan beberapa ratus akun terkoordinasi untuk meniru suara orang banyak, dan Anda bisa membuat seluruh masyarakat yakin akan sesuatu yang tidak pernah nyata. Isinya tidak penting. Kepastian adalah produknya. Dan produk itu laku keras.

    Indonesia telah menguji coba eksperimen nyata ini selama lebih dari sepuluh tahun, dan spesimen terbaiknya memiliki nama yang jelas: ijazah.

    Tuduhan bahwa Joko Widodo memalsukan gelar universitasnya tidak datang dari bukti nyata. Kasus ini berawal dari akun-akun tanpa nama pada April 2014, di tengah masa kampanye pilpres, yang mengedarkan salinan fotokopi dan mempersoalkan ejaan nama serta nomor serial ijazah. Pada bulan Juli, selebaran-selebaran diedarkan di Solo dan Jakarta beberapa hari menjelang pencoblosan. Pihak universitas segera mengeluarkan bantahan. Perkara tersebut semestinya sudah selesai di tahun 2014.

    Sebaliknya, isu itu justru kembali. Ia muncul lagi pada pemilu 2019 untuk menghadapi lawan yang berbeda, namun mengenakan topeng yang sama. Riwayatnya berlanjut hingga ke ruang sidang pada Oktober 2022, ketika penulis buku Jokowi Undercover mengajukan gugatan perdata, sebelum akhirnya mencabut gugatan tersebut setelah ditangkap atas kasus ujaran kebencian yang berbeda. Dan setelah itu, isu tersebut bangkit lagi, hingga akhirnya harus diuji lewat jalan yang paling terjal: puluhan saksi, analisis laboratorium forensik terhadap dokumen-dokumen terkait, catatan universitas, teman-teman seangkatan, hingga orang-orang yang menandatanganinya. Pada tahun 2025, penyelidikan resmi ditutup. Tidak ada pemalsuan. Tidak ada tindak pidana.

    Perhatikan anatominya. Ini bukan desas-desus yang mencuat lalu hilang begitu saja, melainkan sesuatu yang tidur panjang dan kembali sesuai jadwal, setiap kali memiliki nilai guna politis. Sepuluh tahun. Tiga kali pemilu. Disanggah pihak kampus, gugur di meja hijau, dan dipatahkan oleh laboratorium forensik, tetapi ia tetap melangkah. Itu bukan lagi bentuk skeptisisme. Skeptisisme akan sirna begitu bukti nyata hadir. Ini adalah komoditas yang dikonstruasikan untuk kebal terhadap bukti, sebab sejak awal, hal ini sama sekali tidak berdasarkan atau berlandaskan bukti apapun.

    Dan isu tersebut menjalankan fungsi yang selalu melekat pada fenomena semacam ini. Ia mencari basis massa yang telah dirundung kemarahan, lalu memberi sasaran tembak bagi amarah tersebut. Ada satu fakta yang enggan diakui orang-orang tentang psikologi mereka sendiri: keyakinan hadir mendahului segalanya. Pembuktian baru dicari belakangan, dirangkai secara terbalik demi mencocokkan kesimpulan yang emosinya telah mereka sepakati sejak awal. Huruf dalam sebuah nama. Nomor serial. Tipografi sebuah bentuk huruf. Bentuk daun telinga pada foto wisuda. Orang-orang seketika menjelma sebagai pemeriksa forensik amatiran; bukan karena mereka berhasil mengendus sebuah temuan, melainkan karena mereka menuntut agar keyakinan awal mereka memiliki pembenaran yang nyata.

    Jokowi President ke 7 Indonesia

    Dan ketika hasil investigasi menyatakan tidak ada pelanggaran hukum, dampaknya sama sekali nihil. Temuan tersebut justru diabsorpsi sebagai bukti tambahan atas terjadinya konspirasi sistemik. Amatilah manuvernya dengan cermat, sebab itulah karakteristik utama dari keyakinan yang dibuat-buat: setiap sanggahan menjelma sebagai pembenaran atas konspirasi, setiap klarifikasi objektif dari universitas dianggap bagian dari skenario yang dibuat-buat, dan narasi tersebut, sembari menolak untuk padam, diam-diam pindah haluan ke tuduhan berikutnya. Keraguan yang jujur akan memperbarui dirinya ketika bukti tiba. Keraguan yang direkayasa hanya sekadar pindah rumah.

    Dan di titik inilah, narasi tersebut sama sekali tidak lagi berbicara tentang selembar ijazah.

    Sebab, konstruksi sistem yang sama yang mengedarkan kebohongan juga memicu kebrutalan. Layar digital menanggalkan wajah asli yang biasa dipakai para manusia di kehidupan nyata, mereka sebagai tetangga, pegawai negeri, atau orang asing yang sopan, lalu menyodorkan keriuhan massa tempat mereka bisa menghilang; tempat di mana tidak ada satu pun yang bertanggung jawab karena semua orang melakukannya. Targetnya bukan lagi berupa argumen, melainkan berubah menjadi ajang persekusi. Isu ini bergerak menjauh dari keabsahan dokumen menuju ke pribadi sang manusia, lalu merembet dari sang manusia ke anak-anaknya, keluarganya, hingga sekutu dekatnya. Sebab, poin utamanya tidak pernah berkisar pada persoalan ijazah. Poin utamanya adalah pembenaran untuk melakukan penyerangan.

    Esensinya adalah legalitas untuk menyerang. Dan sebagian besar dari mereka percaya bahwa mereka tidak akan pernah membayar harganya. Inilah kebohongan senyap di balik dusta yang lantang: anggapan bahwa profil privat, nama samaran, serta akun-akun buzzer membuat seseorang kebal hukum. Realitasnya tidak demikian. Kebrutalan digital ini memiliki rekam jejak. Tindakan tersebut memenuhi unsur pidana. Regulasi yang dapat menjeratnya pun telah tersedia. Sialnya, pelanggaran terburuk justru kerap luput dari sanksi, bukan karena ketiadaan regulasi, melainkan karena sistem hukum tersebut berhasil dipecundangi oleh para pelaku yang merancang anonimitas mereka khusus untuk hal ini. Terdapat sebuah mekanisme untuk bersembunyi, dan operasinya terstruktur rapi layaknya mekanisme penyerangan.

    Diatas semua itu, terdapat sebuah fakta yang enggan diungkapkan secara terbuka, sebab hal ini melibatkan entitas yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar akun buzzer. Perusahaan pemilik platform menyadari hal ini. Mereka sejak lama menyadarinya. Mereka memiliki seluruh instrumen yang diperlukan untuk meredamnya, namun mereka memilih abai, lantaran amarah massal bukanlah cacat sistemik. Amarah massal adalah model bisnis utama mereka. Kemarahan kolektif bermigrasi lebih cepat, mengunci atensi (perhatian massa) lebih lama, dan jauh lebih komersial ketimbang objektivitas yang tenang. Walhasil, mekanisme yang meremukkan reputasi warga (seseorang yang tidak mereka kenal) adalah instrumen serupa yang memproduksi profit korporasi. Persoalannya bukan karena mereka tidak mampu menyetopnya. Melainkan karena mereka nihil insentif untuk melakukannya.

    Jika fenomena ini terasa tidak asing, ya memang sangat wajar. Konstruksi mesin yang sama persis ini telah melekatkan diri pada identitas yang berbeda di berbagai negara, tunduk pada mekanisme psikososial yang sama setiap waktu: temukan sosok yang dianggap mengancam rasa kebersamaan suatu kelompok, maka rekam jejak faktual sosok tersebut tidak lagi relevan. Kemarahan kolektif hadir mendahului segalanya, lalu sibuk mengonstruksi pembenaran setelahnya. Saya pernah menulis tentang versi mesin ini yang mengenakan wajah Amerika. Ini adalah versi yang mengenakan wajah Indonesia. Tanggalkan salah satu dari kedua tokoh tersebut, maka sistem mekanis di bawahnya terbukti identik dan ia kini tengah bersiap untuk memangsa target berikutnya.

    Dan sekarang, kita tiba pada satu fakta yang enggan dihadapi oleh hampir semua orang.

    Mekanisme (mesin) ini tidak beroperasi di atas pondasi kejahatan. Ia dapat beroperasi seperti ini karena digerakkan oleh Anda. Menggunakan insting paling mendasar dan paling manusiawi yang Anda punya, yaitu dorongan untuk diterima oleh suatu kelompok (takut terkucilkan, daya tarik massa, keletihan mental yang membuat Anda terus berselancar di lini masa ketimbang melakukan verifikasi, hingga kenyamanan semu saat membiarkan orang lain berpikir menggantikan Anda. Ini bukan penyakitnya orang-orang jahat. Ini spek bawaan pabrik kita semua, dan itulah alasan tepat mengapa insting bawaan ini dapat dieksploitasi dalam skala industri oleh pihak mana pun yang menguasai keahlian serta modal jaringan. Anda tidak lantas aman hanya karena memiliki inteligensi tinggi. Kaum intelektual justru sering kali menjadi mangsa yang lebih mudah, karena mereka jauh lebih pintar membangun alasan yang rumit untuk apa yang sudah mereka pilih untuk rasakan.

    Dengan demikian, substansi pertanyaan yang layak dicermati bukanlah perihal keabsahan ijazah tersebut. Perkara itu telah tuntas, dan tuntas secara menjemukan, dalam sebuah arsip kepolisian yang sudah final. Pertanyaan yang melampaui riwayat politik Jokowi, juga Ahok sebelumnya, hingga nama-nama asing yang belum pernah kita dengar hari ini, adalah sebuah pertanyaan yang semestinya membuat bulu kuduk Anda meremang:

    Mengapa dusta yang kosong tanpa substansi bisa mengalahkan kebenaran yang memiliki seluruh fakta?

    Inilah subjek utamanya. Bukan perihal ijazah seorang individu, melainkan mekanisme sistemik di bawahnya. Bagaimana konstruksinya dibangun. Siapa yang meraup untung dengan mengubah kemarahan Anda menjadi pendapatan mereka. Mengapa nalar Anda sendiri menyerahkan kendali kendaraannya lalu bersyukur setelahnya. Bagaimana sebuah silang pendapat merembet menjadi aksi persekusi, bagaimana persekusi menjelma sebagai tindak pidana, dan bagaimana masyarakat yang tenggelam dalam kebisingan buatan perlahan berhenti percaya bahwa kebenaran adalah sesuatu yang layak untuk dicari. Itulah yang sebenarnya dibangun oleh hoaks ijazah Jokowi.

    Saya akan membongkar seluruh konstruksi mesin ini secara sistematis, memilah setiap komponennya di atas meja, dan menyematkan identitas yang sebenarnya.

    Seluruh fenomena ini hanyalah pertanda awal mesin mulai beroperasi.

    Bedah kasus secara komprehensif akan segera rilis dalam format buku mini di AbyssDome Store.

    Sumber:

    Kompas – Cerita di Balik SP3 untuk Eggi Sudjana dan Damai Lubis di Kasus Ijazah Palsu Jokowi

    Detik – Polisi Resmi Terbitkan SP3 Rismon Sianipar di Kasus Ijazah Jokowi

    ANTARA – Polda Metro Hentikan Kasus Tiga Tersangka Laporan Ijazah Palsu Jokowi